Sabtu, 18 Mei 2013

Sejarah Singkat Pattimura

Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura)
Nama asli dari THOMAS MATTULESY atau PATTIMURA adalah KABARESI, ia dilahirkan di tanah Maluku pada tahun 1784 dan dibesarkan dalam keluarga MATTULESY. Ketika ia dibaptis diberi nama THOMAS MATTULESY, selanjutnya setelah dewasa ia memasuki dinas kemiliteran militsi Kerajaan Inggris yang saat itu menduduki Indonesia dari tahun 1811-1817.

Karena keberaniannya didalam tugas kemiliteran militsi Kerajaan Inggris, ia mencapai pangkat SERSAN MAYOR, dan karier militernya harus berakhir karena di Eropa tengah berlangsung Revolusi Perancis, dan untuk membendung revolusi Perancis maka Indonesia harus dikembalikan kepada Belanda.

Guna melicinkan jalannya penyerahan Indonesia kepada Belanda, Negara-negara koalisi di Eropa kontra Revolusi Perancis mengadakan muktamar di Wina pada tahun 1814 dan menganjurkan kepada inggris agar mengembalikan Indonesia kepada Belanda. Sejalan dengan muktamar WINA tersebut, maka pada tahun yang sama antara Inggris dan Belanda mencapai kesepakatan yang capai melalui TRAKTAT LONDON 1814 yang salah satu isinya “Inggris mengembalikan Indonesia kepada Belanda.”

Pada tahun 1816, Pemerintah Belanda mengutus 3 (tiga) orang Komisaris Jendral masing-masing bernama : ELANT, BUYSHES dan VAN DER CAPELEN untuk datang ke Indonesia dalam rangka menerima penyerahan Indonesia dari Pemerintahan Inggris. Pada tanggal 17 Agustus 1816 Pemerintah Inggris yang diwakili oleh Letnan Gubernur JOHN VENDEL menyerahkan Indonesia kepada Pemerintahan Belanda, tetapi penyerahan tersebut tidak membawa situasi damai bahkan melahirkan konflik bersenjata di Maluku Tengah tepatnya di SAPARUA.

Konflik bersenjata di Maluku Tengah ini dipimpin oleh Thomas Mattulesy yang disebut LAKI-LAKI KABARESI. Thomas Mattulesy menyadari bahwa kembalinya Belanda ke Indonesia akan memberlakukan kembali HONGITOCHTEN di Maluku bahkan kerja rodi dengan DAG ORDER akan dihidupkan kembali, oleh sebab itu Thomas Mattulesy bersama kawan-kawannya : ANTHONY REBOK, SAID PARINTAH dan PHILIP LATUMAHINA menggerakkan rakyat di Saparua untuk menggempur BENTENG DUURSTEDE tempat kediaman orang Belanda.

Pada tanggal 15 MEI 1817 Benteng Duurstede di serang, dimana semua orang Belanda terbunuh termasuk RESIDEN VAN DEN BERG, kecuali anak Van Der Berg yang masih kecil diselamatkan oleh Thomas Mattulesy yang dipelihara sampai besar yang kemudian dipulangkan ke Belanda dan diberi nama VAN DEN BERG VAN SAPARUA. Inilah yang menunjukkan bahwa Thomas Mattulesy memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.

Bersama dengan serangan terhadap Benteng Duurstede di Saparua, di NUSALAUT pergerakkan dipimpin oleh CHRISTINA MARTHA TIAHOHU dan PAULUS TIAHOHU bapaknya menyerang dan menduduki BENTENG SELANDIA di NALAHIA NUSALAUT. Kedua serangan yang dilakukan terhadap Belanda di Benteng Duurstede dan Benteng Selandia mengejutkan Pemerintah Belanda di AMBON.

Untuk menumpas gerakan di Saparua dan di Nusalaut, maka GUBERNUR VAN MIDELCOP di Ambon menugaskan EKSPEDISI PERTAMA dibawah pimpinan KAPTEN BECEES berangkat ke Saparua untuk menumpas gerakan Thomas Mattulesy dan kawan-kawan. Ketika pasukan Kapten Becees akan mendarat di PANTAI WAISISIL, ARMADANYA dapat dihancurkan oleh pasukan Thomas Mattulesy pada tanggal 20 Mei 1817.

Dengan gagalnya Kapten Becees dengan pasukannya, maka Gubernur Van Midelcop memerintahkan pembentukan EKSPEDISI KEDUA dibawah pimpinan KOLONEL VAN DE GROOT. Ketika Kolonel Van De Groot bersama pasukannya tiba di Saparua, maka setiap tempat yang didatanginya di bumi hanguskan sehingga ruang gerak pasukan Thomas Mattulesy dan kawan-kawan dipersempit, yang pada akhirnya mereka tertangkap dan ditawan.

Demikian pula dengan pergerakan dari Christina Martha Tiahohu dan Paulus Tiahohu, yang pada akhirnya tertangkap, dimana Paulus Tiahohu dihukum pacung dihadapan rakyat Nusalaut, sedangkan Christina Martha Tiahohu dibawa ke Saparua dan bersama-sama Thomas Mattulesy, Said Parintah, Anthony Rebok dan Philip Latumahina dibawa ke Ambon untuk menjalani hukuman mati, dengan kapal laut EVERTSEN para pejuang kusuma bangsa ini dibawa ke Ambon.

Saat kapal Evertsen kira-kira diantara pulau ambon dan pulau Buru, tiba-tiba air mata membasahi geladak kapal Evertsen dimana Christina Martha Tiahohu kusuma bangsa yang memiliki semboyan, “LEBIH BAIK MATI BERKALANG TANAH DARIPADA HIDUP DIBAWAH TELAPAK KAKI PENJAJAH BELANDA,” berpulang dipangkuan TUHAN YANG MAHA PENCIPTA dengan tenang, jenasahnya dikebumikan di laut BANDA. Selanjutnya Thomas Mattulesy, Anthony Rebok, Said Parintah dan Philip Latumahina melanjutkan perjalanan ke Ambon dan ditawan di BENTENG VICTORIA AMBON.

Tepat pada tanggal 16 Desember 1817, para pejuang kusuma bangsa ini menjalani hukuman mati gantung didepan Benteng Victoria, satu persatu naik ke tiang gantungan, pada saat tiba Thomas Mattulesy melaksanakan hukuman tersebut, berpesanlah ia kepada seluruh rakyat Maluku demikian, “KAMI PATTIMURA-PATTIMURA TUA BOLEH DIHANCURKAN, TETAPI KELAK AKAN MUNCUL PATTIMURA-PATTIMURA MUDA UNTUK MENERUSKAN PERJUANGAN KAMI”.

Perlu diketahui bahwa Thomas Mattulesy diberi gelar PATTIMURA sebab ia merupakan pemimpin yang pertama atau yang paling awal yang muncul di Indonesia bagian timur yang menentang kembalinya penjajahan Belanda.

Pemerintah NKRI memberikan penghargaan sebagai “PAHLAWAN NASIONAL” dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 087/TK/1973 tanggal 06 Nopember 1973, sedangkan Christina Martha Tiahohu diberikan penghargaan oleh Pemerintah NKRI sebagai “PAHLAWAN KEMERDEKAAN NASIONAL” dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 012/TK/1969 tanggal 20 Mei 1969.

Demikian sejarah singkat perjuangan Pahlawan Nasional PATTIMURA dan CHRISTINA MARTHA TIAHOHU untuk kita kenang bersama.

Naskah ini dibacakan oleh Bpk Ir. RILES WATTIMENA pada perayaan peringatan Hari Pahlawan Nasional Pattimura yang diselenggarakan IKMMS-MASOHI Semarang pada tanggal 26 Mei 2003 di Gedung TBRS Semarang. (***)

Oleh: Panitia Pelaksana Peringatan Hari Pahlawan Nasional Pattimura Tahun 2003.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar